Ayah Aku Rindu Padamu
Pagi
yang cerah, aku masih terbaring malas di kasur tepatnya di kamarku. Entah
mengapa hari ini aku merasa sangat malas untuk bangun dan masih saja mengantuk.
Mungkin karena semalam aku harus mengerjakan tugas hingga larut. Tapi aku harus
memaksakan diri untuk masuk. Aku harus bersiap siap mandi karena hari ini ada
penilaian sikap diri.
“Ouuhhhh..” teriakku sambil menguap.
Hay
sobat, perkenalkan namaku Senja. Aku anak pertama dari 2 bersaudara. Aku punya
adik laki-laki namanya Fajar dia baru berumur 13 tahun, sedangkan aku menginjak
17 tahun. Aku hanya tinggal bersama adik dan ibuku, Ayahku sudah meninggal
sejak 3 tahun yang lalu. Beliau meninggal Karena terserang penyakit jantung.
Hmm…
sebelum aku berangkat sekolah akan ku ceritakan sedikit tentang bagian dari
istana kami termasuk hobbyku. Sejak kecil aku mempunyai cita-cita sebagai
penulis, dan itu juga termasuk hobby ku. Aku termasuk wanita yang ceria dan
riang, walaupun terkadang aku menangisi ayahku. Aku dekat sekali dengan ayah, apapun
yang aku lakukan hari ini pasti akan aku adukan ke Ayah. Beda dengan Fajar,
justru ia dekat dengan ibu. Terkadang aku merasakan kerinduan akan kehangatan
keluargaku. Biasanya, di keluarga ini ada seorang lelaki yang gagah berani
melindungi keluarganya tetapi sekarang kami telah kehilangan sesosok lelaki
itu.
Sudah ya ceritanya, kalau ku teruskan bisa-bisa aku aku terlambat sekolah..
“lama
banget neng” berkata sopir pribadiku
“iya pak tadi kesiangan sedikit..
Teman-temanku
sudah memasuki ruang kelas. Dan aku datang terlambat. Untung saja aku telat
semenit sebelum bel.
Vita melihat tingkahku yang berhamburan ke tempat dudukku dengannya. Dia
memasang wajah yang aneh ketika melihatku duduk di sampingnya sambil
tergopoh-gopoh.
“Tumben lo telat?”
“capek..” ucapku tak menghiraukan pertanyaan Vita dan masih ngos-ngosan.
“lo abis lari jarak jauh ya?”
Lagi-lagi aku tak menghiraukan pertanyaan gadis itu. Oh ya, Dia adalah
sahabatku satu-satunya di sekolah. Vita adalah gadis yang populer di sekolah
ini, tadinya dia adalah team cheers di sekolah ini dan menjadi populer di
sekolah, aku dan dia pun bermusuhan. Tetapi karena dia mengundurkan diri dari
cheersnya, dia jadi dimusuhi oleh kelompoknya yang populer itu. Hmm.. tadinya
juga dia ragu akan berteman denganku, tapi karena aku sering menolong dan
membantunya. Akhirnya kita berteman, bahkan sampai sekarang pun kita
bersahabat. Dia juga siswa terpintar di kelas, bila aku kesulitan mengerjakan
tugas dia selalu mengajariku dengan sabar.
Bel
kelas pun berbunyi menandakan kelas segera masuk.
Jam pertama adalah Bahasa Inggris. pak Diro pun mulai memasuki ruangan kelas
kami.
“Good morning..!!” salam pak Diro yang agak tegas itu.
Pak Diro adalah guru bahasa inggris yang super duper galak. Banyak siswa yang
takut kepadanya termasuk aku. Kumisnya yang tebal dan kepalanya yang gundul itu
lah yang meyakinkan siswa-siswi di sekolah ini jadi takut kepadanya. Kelas pun
menjadi hening jika ia masuk.
Kembali ke kelas. Ternyata Pak Diro masuk hanya sekedar untuk memberikan tugas
mengerjakan soal. Dia bilang hari ini ada rapat guru. Dan itu artinya kita
dipulangkan lebih awal! Yeay! Itulah yang aku inginkan.
Tiba di
rumah aku menyalin pakaian dengan baju kaos berwarna biru laut dengan celana
jeans pendek. Aku langsung lari ke meja makan tempat aku menghilangkan rasa
lapar dan bosan itu, Fajar adikku datang dan berkata..
“kakak! Kalau mau makan ajak aku dong.. aku kan mau makan bareng kakak..!!”
dengan wajah polos dan cemberutnya itu, membuat hati kecilku sedikit menahan
tertawa..
“hmm.. iya deh iya.. sini sini duduk kita makan bareng. Hmm.. ibu mana? Biar
kita sekalian makan bareng ibu.”
“itu dia” ujar adikku sambil menunjuk ke arah ibuku yang baru saja datang.
“hayoo.. pada ngomongin ibu yaa?” candanya.
“hehehe.. sini, Bu. Makan bareng kita. Kita baru aja mulai.” Ajakku pada ibuku.
Kami
bertiga pun makan dengan lauk seadanya. Karena memang porsi makan kami hanya
sedikit.
Ketika aku selesai menyantap makanan, tiba-tiba handphoneku bergetar. Ternyata
ada satu bbm dari Ricky. Dia adalah pacarku. Dia bilang dia ingin mengajakku
jalan-jalan sebentar.
“lama juga gak papa kok, Rik” batinku cengengesan.
Ternyata ibu tahu kalau aku sedang tertawa sendirian, hahaha tak apalah.
Namanya juga anak muda. Ia telah menyetujui hubunganku dengan Ricky. Ricky memang
lelaki yang baik hati dan setia kepadaku, buktinya saja kita sudah hampir 2
tahun berpacaran. Meskipun sering kali ia marah kepadaku, itu juga karena aku
yang terlalu cemburuan. Hehe.
“mau kemana?” Tanya ibuku.
“mau jalan sama Ricky”
Segera ku merias diri menuju kamar, meninggalkan ruang makan serta adikku..
Usai
berdandan, Fajar berteriak dari luar kamarku, dan ia bilang bahwa Ricky sudah
berada di ruang tamu menungguku. Ha? Cepat sekali dia datang. Meskipun ia sudah
datang, aku masih saja sibuk dengan baju yang akan ku kenakan. Mungkin yang
ini, ah tidak terlalu mewah. Mungkin yang ini, ah jelek. Atau yang ini, ih gak
banget… aku baru teringat akan baju yang ia berikan saat ultah ku 3 bulan yang
lalu. Ya, aku pun memakai baju itu. Sekali lagi aku berdiri di depan kaca untuk
memastikan keadaan ku sudah baik atau belum. Fix! Selesai.
Aku berjalan ke ruang tamu dengan menarik nafas panjang.
“Hay, Rik. Maaf jadi nunggu lama.” Ujarku.
“iya gak apa-apa, yuk langsung aja” ujarnya.
Dia pun berpamitan kepada ibuku dan mencubit pipi adikku. Kemudian adikku
menonjok perut Ricky. Begitulah memang mereka selalu bercanda.
Aku dan
Ricky pun menuju mobil dan menuju ke tempat tujuan, dan ternyata Ricky
membawaku ke restaurant yang cukup mewah. Di sini kami disapa oleh para pelayan
yang ramah..
“Selamat malam, silahkan masuk.” Ujar pelayan wanita yang ramah dan
mengembangkan senyumannya.
Kami hanya menangguk dan membalas senyum manis kepada pelayan wanita itu.
Kami mencari tempat duduk yang cocok untuk kami berdua, setelah menemukannya
lagi-lagi kami disapa oleh pelayan, dan kali ini adalah pelayan laki laki yang
membawa sebuah daftar menu, dan sebuah catatan kecil untuk menuliskan makanan
apa yang akan dipesan oleh kami..
“selamat malam mau pesan apa?”
Kami pun memesan makanan.
15
menit lamanya kami menunggu santapan kami, akhirnya santapan itu ada di depan
mata kami.
“ini dia pesanan anda selamat menikmati…” ujar pelayan
Kami segera menyantap makanan dan hidangan tersebut. sejenak kami hilangkan
rasa penat yang melanda kami sambil tertawa dan membahas kejadian-kejadian lucu
di sekolah kami masing-masing, tak terasa waktu sudah semakin larut.
Segera kami bergegas untuk pulang. Seakan aku tak rela harus berpisah
dengannya.
Saat aku berada di rumah, Ricky langsung berpamitan pulang kepadaku. Aku
langsung bergegas berganti pakaian tidur dan bersiap untuk tidur…
(keesokan
harinya…)
Lagi-lagi matahari dan burung-burung kompak membangunkanku dari tidur, aku tak
mau telat itu terjadi lagi padaku. Tapi, sepertinya mataku tidak mendukungku
untuk bangun saat itu. Seakan mataku sulit untuk terbuka, mungkin karena
semalam aku tertidur terlalu larut, dan kurang istirahat. Aku berusaha bangun
dari tidurku, dan akhirnya aku pun bangun.
Sebelum
aku mandi, sejenak aku menampakkan diriku ke cermin yang tertempel di lemari
ku, aku melihat ada sedikit perubahan di wajahku, hidungku terlihat memerah,
dan seakan sulit untuk bernafas, kantung mataku berubah menjadi warna hijau
kehitaman, aku merasa sedikit sakit di kepalaku. Tetapi aku memaksakan diriku
untuk segera mandi dan bersiap-siap untuk sekolah.
Selesai mandi, aku terus menerus bersin dan batuk-batuk. Dan sekali lagi aku
menampakan diriku ke cermin, aku terlihat pucat, mataku semakin lesu dan
hidungku makin sulit untuk bernafas. Tapi, aku tetap menghiraukannya dan segera
pergi ke sekolah. Saat aku sarapan pagi bersama mama dan adikku, mama telihat
heran dengan ku karena aku terus bersin-bersin dan aku menutupi wajahku dengan
buku yang ku bawa.
Tiba tiba…
“kamu kenapa Senja? Kenapa wajahmu di tutup begitu? Kamu sakit?” Tanya mamaku
heran
“oh enggak kok, Bu. Cuma gak enak badan. Nanti juga baikkan”
“ooh, syukurlah tapi kamu nggak boleh nutup nutupin begitu lho! Kalau kamu
sakit ngomong sama Ibu, nanti kita ke dokter..”
“iya, Bu” jawabku singkat
Bibi
langsung memberikanku obat tablet entah apa itu merknya, obat tersebut
diberikan setelah habis makan dan di sekolah nanti.
Setelah itu aku langsung menuju mobil untuk berangkat sekolah.
Dengan kondisi seperti ini, aku paksakan diriku untuk sekolah. Mudah-mudahan
saja di sekolah nanti tidak terjadi apa-apa padaku. Aku berfikir keras untuk
menutupi segala yang terjadi padaku, mungkin masker ini dapat menolongku untuk
menutupi rahasia ini pada teman-teman.
Akhirnya
aku tiba di sekolah. Saat memasukki kelas, semua langsung memperhatikanku. Dan
aku langsung mempercepat langkahku ke tempat duduk. Vita sahabatku pun juga
memperhatikanku.
“napa lo? Tumben pake begituan? Tadi abis naik motor?” Tanya Vita.
Aku pun hanya menggeleng.
“nah terus?” Tanya nya lagi.
“enggak, gue Cuma lagi flu. Takut nyebar ke kelas” bisikku pelan.
“ih, lebay lo. Haha” ujarnya sambil menertawaiku.
“bodo” ujarku sekenanya.
Tiba tiba Nasya dan Jenny wanita populer tetapi sombong melewati mejaku, dia
melihatku dengan sedikit aneh dan duduk di depan tepat pada barisan mejaku.
“waah… kayanya kelas kita bakalan ada penyebar virus nih” Sindir Nasya
kepadaku.
“HAHAHA. iya nih! Kayaknya kita musti beli obat Virus deh! Biar gak menyebar
satu sekolah!” Ujar Jenny seakan-akan dia juga menjawab ocehan Nasya yang
menyindirku, sambil tertawa dan disambut oleh tertawanya Nasya.
“heh! Diem lo semua!! Ini bukan buat bahan tertawaan! Orang sakit malah
diketawain!” bentak Vita seraya berdiri dari tempat duduknya.
“Vita! Udah jangan dengerin!” sambil menarik tangan Vita untuk segera duduk
kembali.
Vita pun duduk kembali dan Nasya beserta gengnya ikut duduk di tempatnya
masing-masing. Kenapa aku musti sekelas dengan wanita sombong seperti mereka,
Tuhan?
Aku
menarik nafas panjang walau sedikit tersumbat. Dan mempersiapkan diri untuk
belajar jam pertama. Karena guru Bahasa Indonesia kami yaitu bu Zakiah sudah
datang. Dan pelajaran di kelas pun mulai dan berjalan seperti biasanya.
Selama kurang lebih sepuluh menit Bu Zakiah menerangkan pelajaran, selama itu
pula aku menahan rasa sakit di kepalaku. Tangan dan kakiku seketika lemas dan
sulit untuk digerakkan, aku tak mau sampai semua orang tau kalau diriku
tergeletak lemas di meja terutama Vita, sahabatku sendiri. Aku sedikit berusaha
untuk memulai menulis kembali perlahan-lahan, aku gerakkan tanganku untuk
menggapai pulpen meski sulit untuk dilakukan. Aku melirik ke arah Vita,
sepertinya ia juga melihatku.
“eh Senja! ke UKS aja yuk!” ujarnya
“enggak, gak papa. Cuma lemes doang” alasanku.
“ih, nanti lo tambah parah!” bentak Vita saking keras suaranya, seluruh kelas
pun spontan menghadap ke kami berdua. Termasuk Bu Zakiah.
“ada apa ini ribut-ribut?” Tanya Bu Zakiah.
“itu, Bu.. si Senja alesan sakit. Bilang aja gak mau ngikut belajar. Yegak?”
celoteh Nasya seraya mengajak teman-temannya untuk menyetujui omongannya.
“diam kamu, Nasya! Ini bukan urusanmu!” bentak bu Zakiah.
“Wuuuuu…” sorak teman sekelasku kecuali Nasya dan geng nya.
Nasya pun membuat wajah kesal dan cemberutnya.
“baiklah, kalau Senja sakit silahkan ke uks. Vita, kamu temenin Senja ya
disana” ujar Bu Zakiah melanjutkan.
Sampai
di uks, Vita menuntunku untuk berbaring di tempat tidur.
“eh Vita! sana gih balik ke kelas. Nanti jadi ketinggalan pelajaran lho!”
ujarku.
“gak apa apa tenang aja.. gampang!! Tinggal minjem catetan aja sama Oktavia”
balasnya tenang.
Tiba tiba aku merasakan kepala ku sangat sakit dan perutku mual rasanya ingin
muntah. Dan aku mencoba untuk merahasiakan hal ini dengan Vita. Aku berfikir
untuk mencari alasan agar tidak terlihat sakit di depannya.
“emmm.. Vit. Tolong ambilin obat dong di tas gue. Mau gak?” tanyaku sekaligus
alasanku agar Vita keluar dari sini sebentar.
“okeee” ujarnya mantap seraya keluar dari ruangan berbau obat ini.
Aku langsung pergi ke toilet, untung saja toilet dengan uks jaraknya hanya
beberapa langkah saja. Aku berjalan sambil menahan beban badanku di tembok,
sambil memegang perutku yang mual ini.
Setelah sampai di toilet, aku buang segala kemualan ku disana. Ternyata yang
kubuang adalah darah, darah segar yang berasal dari tubuhku. Begitu banyak
darah yang keluar sehingga aku tak dapat menahan beban di tubuhku, lututku
semakin lemas dan aku terjatuh di toilet tak sadarkan diri.
Entah
mengapa kini aku telah berada di ruangan dingin dan terang, aku membuka mataku
perlahan. Ini dimana?
“Senja, kamu udah bangun?” ujar ibuku yang seketika berada di sampingku bersama
Fajar dan Vita.
“Ibu? Fajar? Vita? Ke.. kenapa aku disini? Bukannya tadi aku lagi di sekolah?”
tanyaku
“tadi lo pingsan di toilet pas gue lagi ngambilin obat di tas lo. Yang ngabarin
lo pingsan itu Dea anak Ipa.” Jelas Vita.
Pingsan? Aku pingsan? Aku benar-benar bodoh!
“ka! Jangan bengong!” tegur Fajar.
“eh iya iya”
“ya udah, Senja istirahat dulu aja. Nanti ibu bangunin kalau udah waktunya
minum obat.” Jelas ibuku.
Tanpa berfikir panjang aku segera memejamkan mata dan tertidur pulas.
…
“Ayaaaahhh”
akupun berteriak kepada ayahku yang ada di seberang jalan raya.
“hay, Nak” balas ayahku seraya melambaikan tangannya ke arahku, dengan senyum
nya yang disunggingkan membuatku merasa sangat ingin bersamanya.
Aku ingin sekali memeluk dirinya, tapi jalanan begitu banyak kendaraan yang
berlalu lalang. Aku takut sekali, mengambil langkah selangkah saja ada motor
dan mobil yang melaju kencang di hadapanku.
“jangan menyebrang, Nak! Banyak kendaraan” teriaknya.
“tapi aku rindu dengan Ayah..” balasku.
“jangan, Nak! Kembalillah bersama ibumu! Ibumu menunggumu disana, cepat
pulang!” ujar Ayahku.
“Tapi, Yah..” kataku menggantung dan tertunduk sedih.
“Senja! Senja! Ayo kita pulang! Senjaaa!! Senjaaaaaa!!” panggil ibuku.
“Senjaaa..
hey! Bangun, Nak. Senjaaaa…” ucap Ibuku sambil menggoyangkan tubuhku dan
membangunkanku.
“ibu? Ayah mana, Bu?” tanyaku pada ibu.
Ibuku terdiam dan heran mengapa aku bertanya seperti itu, tiba-tiba ibuku
memotong pembicaraan.
“eh, ayo, Nak. Waktunya minum obat.” Ujarnya seraya memberiku segala macam
obat-obatan.
Obatnya banyak sekali, sebenarnya aku mempunyai penyakit apa? Bukannya aku
hanya flu? Tapi… kenapa segini beratnya, kepalaku juga sangat sakit. Mengapa
ini Tuhan?
“kenapa diliatin? Ayok diminum, Nak” ujar ibuku.
Aku hanya mengangguk, dan mulai meminum satu persatu obat tersebut. Tak ada
satu pun obat yang enak! Semuanya pahit. Aku sebal!
Usai meneguk semua obat itu, aku penasaran apa penyakit yang aku derita ini
sebenarnya.
“bu, aku sakit apa?” tanyaku pada ibuku yang sedang duduk di sampingku.
“emm.. anu.. kamu Cuma sakit mual-mual aja kok. Besok juga sembuh, makanya kamu
musti makan yang banyak biar cepet sembuh.” Ujar ibuku.
Aku tahu mata ibu jika berbohong, aku tahu wajahnya jika ia menyembunyikan
sesuatu dariku.
“bu, aku sudah besar. Pasti aku bisa mengerti dan paham apa yang baik dan yang
buruk untukku. Aku sudah paham yang bakal terjadi nanti padaku, Bu.” Aku
terdiam sejenak.
“apa penyakit yang aku derita bu?” sambungku.
“emm.. tadi ibu bicara pada dokter.. dia bilang…” ujar ibuku menggantung.
—
“penyakit
apa yang diderita Senja, Dok?” Tanya Ibu.
“apa sebelumnya anak ibu pernah mengalami penyakit hepatitis?” Tanya dokter.
“tidak, Dok. Anak saya sehat wal’afiat baru kali ini saya melihat anak saya
sakit seperti ini.” Jelas ibu.
“hmm… saya rasa anak ibu menderita penyakit Karsinoma hepatoseluler atau kanker
hati bisa timbul pada penderita sirosis hati ini atau akibat infeksi virus
hepatitis B. Kanker hati bisa juga akibat aflatoksin, sejenis racun yang
dihasilkan jamur-jamur tertentu. Keadaan ini dapat menimbulkan komplikasi
berupa gangguan cairan di rongga perut serta muntah darah yang dapat berakibat
fatal. Kalau diobati dan dirawat baik, fungsi hati bisa berangsur normal meski
tidak bisa sembuh sempurna karena organ hati telanjur mengkerut.” Jelas dokter.
“tapi, sebelumnya anak saya tidak pernah menderita penyakit dalam, Dok.” Ujar
Ibu.
“Penyakit ini bisa menyerang siapa saja, terutama pada usia dewasa, remaja,
bahkan anak-anak.” Jelas dokter sekali lagi.
—
“Aku
baru mengerti, dan aku sadar. Betapa bodonya diriku, mengapa tidak mencegah
penyakit itu? Aku adalah wanita kuat! Aku tak pernah sakit! Aku harus bisa
melawan kanker ini, tak akan kubiarkan kanker itu menggerogoti hatiku!” batinku
seraya memotivasi diriku sendiri.
Aku
mengerti bahwa wajah ibu sekarang adalah menahan tangis, aku tak mau melihatnya
menangis. Dengan seluruh tekad ku, aku yakin aku akan sembuh. Aku harus sembuh
agar ibu bisa senang seperti dulu.
“bu, di kamar sebelahku ada siapa?” tanyaku.
“hmm.. dia anak kecil, dia juga punya kanker.” Jelas ibuku.
“oh ya? Aku ingin melihatnya, Bu”
Aku pun bangun dan menurunkan kaki ku dari tempat tidur, perlahan-lahan. Ternyata
aku masih bisa bangun dan berdiri tegak, senangnya…
Tiba di kamar sebelah, aku melihat anak kecil yang sedang disuapi oleh ibunya.
Dia perempuan, kepalanya telah digunduli mungkin karena kanker itu sudah
menggerogoti otaknya sehingga rambutnya rontok. Wajahnya pucat, matanya seperti
orang mengantuk.
“hay adik manis” sapaku tersenyum.
“hay kaa..” balasnya juga tersenyum.
“aku boleh main sama kamu gak?” tanyaku.
Gadis itu melirik ke arah ibunya, seakan-akan meminta izin untuk aku dapat
bermain bersamanya. Aku mengerti,
“boleh ya tanteee.” Rengek ku seraya memuji ibunya gadis kecil ini.
Ibunya mengangguk dan mempersilahkan aku untuk duduk di samping tempat tidur si
gadis kecil berkanker otak tersebut.
“hay, namaku Senja. Nama kamu siapa?” tanyaku.
“namaku Amelia..” katanya sembaring menyunggingkan senyumannya yang manis meski
dihiasi dengan wajah yang pucat.
“waaah.. nama yang bagus. Eh iya, aku punya temen namanya Amelia juga.. dia
orangnya genduuut banget, dia suka banget jajan. Kalo aku beli jajanan di kantin
nih, pasti dia rebut. Tau nggak? Dia itu gampang marah, tapi gampang juga
nangis. Lucu deh, dia kalo nangis pasti bawa-bawa ibunya, kayak gini… mamaaaa…
aku diledekkin sama merekaaa… huhuhu. Hahaha” candaku seraya mengikuti adegan
Amelia yang sedang ngambek, dia teman sekelas ku.
“beneran, Ka?” Tanya nya sambil ikut tertawa cekikikan.
“iya, beneran! aku gak bohong. Untung Amelia yang ini cantik. Gak kayak Amelia
yang di sekolahan aku. Hahaha” candaku padanya.
Ia tertawa, tertawa lepas. Seakan sembuh dari penyakitnya. Tiba-tiba ia
berhenti tertawa dan menatapku.
“ka, rasanya punya temen itu enak ya?” ujarnya.
DEG! Pertanyaannya membuat hatiku sesak. Apa ia belum pernah berteman dengan
orang lain? Apa yang ia lakukan selama hidupnya? Gadis belia seperti dia
seharusnya sedang mengalami masa kecilnya yang bahagia disana.
“ka, kenapa diem? Jawab dong. Rasanya punya temen itu kayak gimana?” Tanyanya
penasaran.
“rasanya punya temen ituuu, enaaaak banget. Temen itu orang yang menemani kita
selama kita hidup selain orangtua dan keluarga. Mereka yang bikin kita ketawa,
kadang juga mereka bikin kita sedih.” Jelasku.
“aku ingin punya teman…” ucapnya menunduk.
“aku bisa jadi temanmu, mulai sekarang kita berteman yaa..” ucapku mengacungkan
jari kelingking ku.
“kakak mau jadi teman ku?” katanya.
Aku hanya mengangguk, dan ia mengaitkan jarinya. Aku memeluk tubuhnya yang
dingin, ingin rasanya aku menangis. “Berarti aku adalah teman pertamanya?”
batinku.
“kaa..” ucapnya lagi seraya melepas pelukannya.
“apa?”
“aku mau tanya sesuatu, kalau hidup aku Cuma untuk merasakan rasa sakit ini,
buat apa aku hidup?” Tanyanya dengan wajahnya yang sedih.
Aku menarik nafas panjang untuk mempersiapkan jawaban si gadis kecil ini.
“Itu artinya, Allah sedang memberi ujian kepada kamu dan keluarga kamu. Bahwa,
di dunia ini bukan hanya untuk bersenang-senang. Ada manusia yang mendapatkan
kesenangan di dunia tetapi menderita di akhirat. Ada juga manusia yang
mendapatkan penderitaan di dunia, dan berakhir bahagia di akhirat. Karena,
kesenangan dan penderitaan di dunia adalah sandiwara Allah kepada kita. Dia
adalah makhluk yang mampu memberikan apa saja kepada ciptaannya. Kamu gak usah
sedih dengan keadaan mu yang sekarang, Allah itu kan maha mengabulkan
segalanya.. coba kamu memohon dan berdoa untuk cepat lekas sembuh. InsyaAllah,
ia akan mengabulkannya.” Jelasku menggenggam kedua tangan Amelia.
“tapi, Ka. Aku ingin bermain seperti teman-teman di luar sana. Aku ingin
berlari, loncat-loncat, berputar, menari, menyanyi.. seperti layaknya
teman-teman diluar sana” ucapnya gemetar.
Aku diam sejenak. Mengapa anak sebelia ini dapat mengerti kehidupan? Fikirannya
begitu dewasa.
“Amelia, aku mengerti keadaanmu. Aku tahu kamu membutuhkan hiburan. Tapi.. ini
adalah hidup kamu sayang. Coba deh kamu tarik nafas panjang, terus keluarin
dari mulut perlahan-lahan. Rasanya lega kan? Anggap saja itu seperti kamu
sedang bermain bersama teman mu.” Jelasku telah habis kata-kata.
“aku
gak ngerti kenapa hidup ini terlalu menyulit kan aku” ucapnya gemetar.
Aku terdiam…
Seminggu
kemudian, penyakitku bertambah parah. Aku merasakan sangat sakit terlebih di
bagian hulu hati ku. Kepala hingga organ tubuhku terasa sakit semua, aku tak
bisa mengendalikan tubuhku. Lagi-lagi aku mual, aku batuk-batuk dan semuanya
mengeluarkan darah. Aku merasa sangat lemah dan tidak berdaya. Tepat jam 12
malam aku melihat ibuku setia menemaniku dan tidur bersamaku. Aku tak tega
untuk membangunkan nya yang sedang tertidur pulas di kasurnya.
“Apa ini jalan terakhir ku menuju kematianku? Kalau iya, izinkan aku untuk
sembuh sementara dan melihat mereka yang menunggu kesembuhan ku sementara. Aku
ingin melihat mereka walau sebentar saja. Tuhan, kabulkan lah…” rintihku.
Paginya,
aku terbangun dari tidurku. Entah kapan aku tidur, intinya sekarang sudah
bangun dan pagi lagi. Aku bosan dengan kehidupan ku yang sekarang, kerjaannya
hanya tidur, makan, minum obat. Aku mau main sama temen-temen aku lagi.
“Ha? Kenapa ini? Kenapa badanku menjadi sangat segar sekali? Apa aku sembuh?
Apa aku telah dinyatakan sembuh dari penyakitku?” batinku seraya melihat kedua
pergelangan tanganku tidak pucat dan menyentuh kedua pipiku yang terasa segar
kembali.
“Ibu, Ibu! Aku sembuuh!!” ucapku pada ibuku yang tengah menyiapkan sarapan
untukku.
“iiisss.. apa sih kamu ah, ngawur. Iya, iya nanti kamu juga sembuh kok” ucap
ibuku tak memercayai ku.
“lihat, Bu. Aku sudah segar dan semangat lagi. Lihat, tanganku sudah enggak
pucat lagi. Aku juga udah seger, Bu. Ayo kita pulang”
Ibu terdiam sejenak. Dan melanjutkan “tunggu, biar ibu panggil dokter.”
Akhirnya…
aku telah sembuh dan dinyatakan bersih dari kanker itu. Aku yakin, Ricky dan
Vita pasti akan senang melihat ku kembali. Seminggu berada disini sudah cukup
untuk aku merasakan penderitaan. Tetapi, aku melihat Amelia si gadis kecil itu
seperti menangis.. sepertinya ia iri terhadap ku.
“Ameliaaa.. maaf ya kakak pulang duluan. Kamu jangan patah semangat ya sayang,
aku yakin Amelia kuat dan sembuh total seperti kakak. Amelia pernah bilang
sendiri kan sama kakak, kalau Amelia kuat? Ayo tunjukkin kekuatan kamu, kalau
ada kesempatan. Kakak akan kesini lagi nengokin kamu. Oke?” ujarku memeluk
tubuh Amelia yang kurus itu seraya mengeluarkan sebuah gantungan kunci dengan
dihias boneka teddy bear kecil kesayanganku.
Mungkin barang ini bisa menenangkan dan menjadikan kenangan untuknya.
“ini gantungan kunci buat kamu, kenangan dari aku. Di simpen yaaa..” ujarku
seraya menyerahkan gantungan kunci itu padanya.
Ia menerimanya dengan senang hati meskipun hanya gantungan kunci, mungkin itu
bisa buatnya lebih tenang di setiap tidurnya.
“aku juga punya sesuatu buat kakak.” Ujarnya seraya mengambil sesuatu didalam
tas kecilnya.
“apa dek?”,
Dia menyerahkan sebuah gelang kepadaku.
“ini kak, gelang ini aku buat sendiri saat aku masih sehat. Aku janji pada
diriku sendiri untuk memberi gelang itu kepada sahabat pertamaku. Ini ka,
terima ya.. meskipun jelek, tapi aku buatkan dengan penuh cinta. Dipakai ya
kaaa” ujarnya.
Ya, aku menangis. Aku menangis di hadapannya, dipakaikannya gelang itu pada
pergelangan tangan kananku. Setelah itu, aku segera memeluknya. Aku menangis
dan terus menangis. Baru kali ini ada sesorang yang mampu membuat air mataku
meluncur deras tak kunjung henti.
“makasih Amelia, kamu sahabat aku” kataku mencium jidatnya.
Perpisahan ini membuatku merasa sangat sedih. Masih ada seseorang yang lebih
menderita dibanding dengan diriku sendiri. Meskipun aku tahu, penderitaan ku
tidak sebanding dengan apa yang dibandingkan penderitaannya.
Meskipun
aku telah sembuh, aku tidak dibolehkan untuk beraktivitas terlalu keras dulu,
terutama masuk ke sekolah. Meski begitu, aku tetap senang karena sudah berada
di rumahku yang indah ini.
Pada jam empat sore, Vita dan Ricky datang membawa sekantung buah jeruk
untukku. Mereka berkunjung untuk menjengukku.
“Ih, nyusahin banget sih lo pake sakit segala!” canda Vita.
Vita memang sahabatku yang cerewet, dia sebenarnya perhatian denganku tapi dia
gengsi. Haha. Begitulah yang aku suka dari sifatnya.
“biarin, biar lo bawain gue jeruk” balasku bercanda.
“ih, siapa bilang jeruk ini buat lo.”
“nah terus buat siapa?” tanyaku menahan tawa.
“buat… nyokap lo. Wleee” ledeknya.
Aku, Vita, dan Ricky pun tertawa.
“lo ngapain kesini?” candaku pada Ricky.
“yaudah gue balik” ucapnya seraya berdiri dari tempat duduknya, dia juga
bercanda.
“eh, iya iya.. hehehe” ujarku mencegatnya untuk pergi.
(Sebulan
kemudian)
Aku duduk di sebuah bangku taman belakang halaman sekolah sendirian, kemudian
aku ambil sebuah gelang pemberian Amelia waktu itu, aku rasa.. aku rindu dengan
gadis kecil itu. Apa ia masih dirawat di rumah sakit, atau sudah di bolehkan
pulang?
Entah mengapa aku rasakan penyakit itu datang kembali. Kepalaku sakit sekali,
sesekali aku batuk mengeluarkan darah lagi. Mengapa ini.. tidak-tidak, aku
tidak boleh sakit lagi.
Tiba-tiba, ada seseorang gadis kecil berdiri sekitar 5 langkah dariku. Dia
menatapku, aku menyipitkan kedua mataku seolah-olah untuk memperjelas
penglihatanku. Gadis itu tak asing bagiku, seperti aku mengenalinya… ha?
Amelia? Dia terlihat begitu bahagia, seperti sudah sembuh dan terbebas dari
penyakitnya.
“hay kaaa..” sapanya.
“Amelia, kenapa kamu disini?” tanyaku menghampirinya.
“aku kangen sama kakak. Kita main yuk, Kak.” Ajaknya seraya memegang
pergelangan tanganku.
“tapi, aku sedang sekolah..” cegatku.
“ayok, Kak. Ikut aku, kita main sama-sama disana, disana pemandangannya bagus
sekali. Kakak gak nyesel kalo udah kesitu. Ayok kak, ayok” rengeknya sambil
menunjuk ke arah sebuah cahaya terang di depan kami.
“tapi.. aku gak bisa, De. Aku masih ingin sekolah” ujarku.
Dia terdiam dan melepaskan genggaman tangannya.
“tapi janji, setelah pulang sekolah kakak harus main denganku! Aku tunggu kakak
disini.” Ucapnya.
“iya aku janji”
Entah
mengapa kini aku sudah berada di sebuah ruangan menyilaukan, berbau obat, dan
bersuhu dingin. Mataku masih sayup-sayup memandang daerah sekitar. Badanku
sulit untuk digerakkan, terlebih mulutku yang susah untuk berbicara. Aku
melihat sebuah benda seperti tirai hijau kecil yang menutupi perutku. Dan yang
aku dengar hanyalah suara detak jantung, entah detak jantung siapa. Aku tak
merasakan apa-apa, aku tak berdaya, aku lemas sekali.
Lagi-lagi
aku bangun dari tidurku, aku memuntahkan seluruh cairan pahit yang ada di
perutku. Apa itu? Pahit sekali. Lagi-lagi aku batuk, aku muntah, aku batuk, aku
muntah.. begitu seterusnya, sehingga badanku lemas. Karena seluruh darah dan
cairan yang ada di tubuhku aku keluarkan. Aku sangat tak berdaya.
Aku baru menyadari, di sana ada Ibu, Vita, Fajar, dan Ricky. Merekalah
orang-orang yang teramat aku cintai. Entah mengapa aku menangis melihat mereka
menatapku iba.
“kalian kenapa?” ucapku yang hampir tak terdengar.
“nak, istirahatlah…” ucap ibuku.
Aku tak mengerti apa yang ibu ucapkan.
“sayang.. tidurlah yang nyenyak..” Ricky juga mengucapkan kalimat yang tidak
aku pahami.
Mereka menatapku dengan iba, ibuku memeluk Fajar sambil menangis. Fajar pun
juga menangis dan memeluk erat ibuku. Sedangkan Vita dan Ricky berdiri sambil
mengusap airmatanya. Aku tidur, tidur yang sangat nyenyak yang belum pernah aku
rasakan.
…
“kak
Senjaaaa…” panggil Amelia.
Aku melihat ke arah seberang, disana telah ada ayahku dan Amelia. Mereka
terlihat seperti menungguku untuk menyeberangi jalan raya. Aneh, jalan raya itu
kini telah sepi dari kendaraan yang berlalu lalang. Tak banyak berfikir, aku
langsung berlari dan memeluk Ayah juga Amelia yang sedari tadi sudah
menungguku.
“akhirnya kamu pulang juga, Nak” ucap ayahku sambil mengecup dahiku.
“ayok kak, kita maaaiiinnn” ajak Amelia menarik tanganku.
Ternyata benar ucapan Amelia, disini begitu indah dan sejuk sekali…
The End
Cerpen Karangan: Dilla
Rahmawati
Komentar
Posting Komentar